Lagi-lagi
saya dipaksa belajar. Bahkan mungkin disaat materi yang saya dapat sebelumnya
belum sepenuhnya saya kuasai. Di saat saya sedang tertatih-tatih memaknai arti
sederet kata tentang peenghargaan terhadap waktu, di saat yang bersamaan saya
dipaksa untuk mau mengerti tentang ambang ikhtiar. Tambahan materi yang
ternyata bersinergi.
Lagi-lagi
tidak ada asap kalo tidak ada api (kata mas-mas yang jualan ayam bakar di pasar
sawo). Seperti biasa saya bisa bercerita panjang kali lebar di sini setelah
sebelumnya saya mendapatkan sebuah pengalaman. Bisa pengalaman-pengalaman yang
menyenangkan, menggelitik, mengharukan, bikin serem, atau sebuah tamparan,
sepenggal hari yang harus saya lalui dengan rasa malu. Yap. Dan mungkin salah
satunya adalah hari ini.
Singkatnya
saya sedang membangun sebuah budaya. Ketinggian ya? Mungkin saya bukan
siapa-siapa. Iya betul. Saya mungkin ga bisa merubah dunia. Iya betul. Tapi
satu hal yang dari dulu saya yakini, saya bisa merubah diri saya. Dan
pengaruhnya bukan cuma saya yang merasakan, tapi tiap orang yang bersinggungan
dengan saya. Entah secara langsung maupun tidak langsung. Dan orang-orang yang
bersinggungan tadi punya garis singgung juga dengan orang-orang lain di
sekitarnya. Hem, bingung?
Ok
kalo bingung kita skip langsung ke casenya.
Saya sedang membangun suatu kebiasaan kalo ga boleh dibilang budaya. Kebiasaan
tepat waktu alias on time. Bahkan
kata on time saya tulis dengan garis
miring karena merupakan kata dari bahasa asing atau bahasa serapan. Jadi kata on time emang belum sepenuhnya kepunyaan
orang-orang kita. Traidisi on time masih
kalah populer sama jam karet yang hampir semua orang kita punya dan pake.
Termasuk saya, iya-iya.
Untuk
itulah saya pengen berubah, sukur-sukur merubah. Saya sedikit banyak belajar
dari pengalaman rapat-rapat di satu even yang bisa dikatakan hampir selalu
ngaret. Bahkan berjam-jam. Dan di hari H pelaksanaan saya kejatah jadi tukang time keeper. Orang yang memastikan acara
bakal berjalan sesuai run-down yang
udah dibikin. Memastikan tiap sesi acara berjalan tepat waktu.
Dari
pengalaman tadi saya tersentil. Jadi time
keeper buat acara aja bisa kenapa ga jadi time keeper pula untuk diri sendiri? Pertanyaan yang mungkin perlu
dicerna tanpa perlu dijawab.
Saya
megang sebuah divisi di salah satu organisasi. Katakanlah sebagai koordinator
di katakanlah divisi KPMM. Kami punya program kerja. Dan tentunya kami butuh
meluangkan waktu setidaknya untuk duduk bersama menyusun rencana agar program
terlaksana (Cieh, akhirannya “a” semua). Orang-orang menyebutnya rapat. Ok
rapat. Dan untuk rapat sendiri biasanya orang-orang lebih sepakat untuk
menjadikan jam karet sebagai standar waktu bersama. Jadilah di kebanyakan rapat
selalu dimulai mundur beberapa satuan waktu dari yang diagendakan. Bisa
semenit, 15 menit, sejam, 2 jam. Bisa.
Beruntunglah
anggota saya tidak terlalu banyak. Tiap rapat tidak lebih dari 2 orang (sudah termasuk saya ya) yang datang.
Dan keduanya memang sebagai koordinator. Jadi kebiasaan baru ini seharusnya
tidak terlalu sulit diterapkan dan dibiasakan. Toh satu teladan lebih bermakna
dari seribu kata (kata siapa saya lupa). Apalagi dimulai dari koordinatornya.
Dengan semangat 45 dan optimisme yang meletup saya tuangkan maksud dan gagasan
saya.
“Kenapa
rapat selalu molor? Kalo emang bisanya datang jam 9 kenapa harus bikin janji
jam 8? Kenapa saat dapat jarkom rapat 8 di masing-masing kepala tiap orang
merencanakan datang jam 9? Ini berarti seolah ada persetujuan yang tidak
tertulis bahwa tiap rapat pasti bakal dimulai mundur setidaknya satu jam. Dan
dengan datang tepat waktu atau bahkan sebelum jam 8 berarti konyol karena sudah
pasti kepagian dan belum ada yang datang”. Seolah berorasi di depan ribuan
anggota, padahal yang datang cuma satu.
“Kenapa
ga jujur aja dari awal, kalo emang bisanya jam 9 ya kita terbuka ngomong jam 9.
Kita agendakan besok tanggal sekian rapat jam 9, tapi ON TIME. Kenapa harus
pura-pura bisa datang rapat dimulai jam 8 padahal dalam kepala masing-masing
sudah bikin rencana mau datang jam 9”. Tambah menggebu-gebu.
“Kita
ga usah lah merubah Indonesia, ga usahlah merubah organisasi kita, kita mulai
rubah dari tempat terkecil, hal terkecil: Divisi kita. Kita biasakan anggota
kita kalo rapat on time. Saat itu sudah menjadi sebuah kebiasaan secara
otomatis orang-orang yang bersinggungan dengan kita akan terkena efeknya. Saat
kita rapat bersama dengan divisi lain misalnya, saat kita sudah terbiasa dan
mereka belum, siapa yang malu? Siapa yang memberikan teladan? Siapa yang pada
akhirnya mencoba untuk ikut berubah?”
Jadilah
kebiasaan menghargai waktu tertanam. Dan hal tersebut selalu diawali dengan
sebuah aprovement di awal dalam
membuat janji. Menentukan jam berapa kira-kira untuk bisa hadir tepat waktu.
Awal yang manis. Manis. Sungguh.
Sayapun
mengira akan terus berjalan demikian. Sampai pagi tadi saya sendiri yang
menodainya. Sebuah pesan singkat saya terima yang intinya besok rapat seperti
biasa pukul 8 on time.
Dengan
percaya dirinya saya membalas:
“ON TIME. Terutama untuk
koordinator dan tukang jarkomnya. Yuk jadi pioner. Mulai dari diri sendiri,
mulai dari KPMM ^^”.
Dan
siapa sangka kebiasaan baik yang dengan perlahan mulai terbangun, saya sendiri
yang justru menggoyahkannya. Saya pulang terlalu larut kalo tidak boleh dibilang
dini hari usai menghadiri kegiatan di fakultas. Dan mungkin saya juga teledor
lupa menyetel alarm di handphone karena sudah tidak sabar membuat garis
singgung antara punggung dan kasur. Tertidur. Dan duhaaiii,, janganlah
ditanyakan apa itu arti on time kepada
orang yang pulas. Duhaaii,,, jangan tanyakan tentang menghargai waktu. Jangan
pula tanyakan apa kata “maaf” masih mampu membuat lisan dan tindakan ini nampak
selaras
Duhaiii
Tuhanku. Sesungguhnya hambamu inilah yang sombong. Lupa bahwa manusia hanyalah
pembuat rencana.
Dan
jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan
mengerjakan ini besok pagi, kecuali
(dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika
kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk
kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini."(Qs. Al
Kahfi/18 ayat 23 dan 24).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar