Hari yang luar biasa. Penuh hal-hal baru dan cerita baru tentunya. Tapi masih dengan tokoh utama yang sama disini. Tetap stay tune bersama saya tentunya sebagai lakon dalam my own live. Banyak sudah yang sudah terlewati dan tentu berujung pada satu fakta dan kesimpulan bahwa sudah banyak pula waktu yang telah saya habiskan. Di dunia ini dalam skala umum dan di Kota Industri atau KIIC Karawang International Industry City dalam ruang lingkup yang lebih spesifik.
Kalo mau jujur dan kita lihat dengan cermin datar akan Nampak sesosok pemuda agak kurus, putih, tinggi rambut tegak dan berseragam kerah lengan panjang. Biru langit. Yap betul. Itulah gambaran diri saya yang nampak saat ini. Hidup dan kehidupan yang sedang saya lakoni. Bagian dari cerita hidup saya dan mungkin juga akan menjadi bagian dari kenangan manis saya kelak di masa mendatang “jika dan hanya jika” masih ada umur sampai kesana tentunya. Lha wong saya sekarang lagi ngetik tiba-tiba saraf para simpatetik saya memberikan komando kepada kedua kelopak mata saya yang notabene ndamar kanginan untuk menutup barang sebentar dengan alasan kuwajiban rutin untuk mengedip. Bertujuan untuk membuat mata saya tampak cling dan jauh dari rereged. Tentu ga bisa saya tolak to. Toh itungannya juga amat sangat cepat. Sepersekian detik, cepet to? Iya, lebih cepet dari obat diare pasti. Tapi eh tapi saya diingatkan kalo perhitungan manusia manapun bahkan yang mengklaim-bukan menyombongkan diri lho-dirinya paling akuratpun tentu saja sangat mungkin masih bisa meleset. Belum yakin? Oke kita lanjutken lagi proses ngedip tadi. Mengedip adalah proses menutupnya kelopak mata dengan disusul membukanya kembali secara automatic dan acap kali benar-benar tanpa kita sadari. Kita sudah teken kontrak untuk memasrahkannya sama saraf autonom kita. Hayo takut ga? Mulai ngarti ga apa yang sedang saya coba rembug?
Saya garis bawahi kata autonom tadi itung-itung kasih clue. Jadi proses ngedip tadi bener-bener ga harus minta persetujuan dari otak kita yang biasanya sok-sok pengin mengatur segala hal. Dan satu fakta yang seharusnya bisa membuat saya dan sampeyan ngeri tentunya adalah proses ngedip tadi setelah diitung-itung dengan cukup njlimet ternyata dibagi dalam dua fase. Yaitu menutupnya kelopak mata ini yang disebut fase pertama dan disusul membukanya kembali alias melek ini fase penyembuhan-lho kok iklan penyuluhan DBD- fase penyempurna atau fase penutup atau fase kedua maksud ike. Jadi bagian mana to yang bikin ngeri? Yaitu tadi kalo kita mau berandai-andai proses yang begitu cepatnya yang dalam itung-itungan scientist hanya makan waktu sepersekian detik, tapi kok ndilalah na’as. Baru fase awal atau sampeyan dan saya baru memejamkan mata merem. Kok ndilallah atas kehendakNYA ga dikasih kelanjutan lagi. Yaudah kita diharuskan bersyukur karena mendapat nikmatnya berkedip ning tapi hanya satu fase aja dulu. Ga papa to? Ya gitu aja, merem thok. Bablas. Semua kenikmatan dunia yang tengah kita rasakan diambil kembali sama yang ngasih. Dalam proses yang seharusnya terjadi begitu cepat tadi. Masya ALLAH saya ngeri beneran. Padahal niat saya mau nakut-nakutin sampeyan kok malah saya ikut takut juga. Manusia.
Intinya saya nulis disini gara-gara baru liat sapi disembelih. Qurban gitu. Sapi yang begitu sehat dan tentu saja dipilih the best of the best-namanya juga buat qurban-yang sudah cukup umur dan berbobot ideal tentunya, yang sehat dan jauh dari penyakit pastinya, yang kukunya utuh begitupun giginya, dan satu lagi telinganya ga boleh tindikan apalagi punya tato, wah udah pasti ga lolos itu. Bisa dibayangkan berapa waktu yang udah dihabiskan si Sapi di dunia ini. Minum air yang dikasih Bendaranya, makan rumput yang hijau nan segar, menghirup udara pagi, dan dimandikan dalam interval waktu tertentu tentunya. Dan dia pun harus berakhir. Judgment sehat mengharuskannya rela untuk mengakhiri semua kesibukannya di dunia ini. Menutup lembaran cerita bersama bendara yang dengan tlaten merawatnya. Dan dia harus benar-benar pergi ke tempat yang amat jauh ketika sebilah golok tepat menggorok saluran pernafasan dan kerongkongannya. Darah segar menyembur keluar disertai bunyi lenguhan keras menandakan betapa sakitnya sakarotul maut itu bahakan dari sudut pandang sapi.
Tak lama disusul bunyi ngorok yang cukup keras menandakan nafas terakhir mulai dihembuskan. Keempat kakinya berusaha budi. Kroncalan tak karuan pastinya jika tak diikat. Ekornya mengibas kesana kemari. Darah segar masih mengucur dari lehernya yang tampak menganga lebar. Sunyi. Tak terlihat ada perlawanan lagi. Si Sapi sudah on the way ternyata. Pergi jauh meninggalkan sifat keduniawian dan setumpuk rumput segar yang diaritkan bendaranya tadi pagi. Raganya yang gemuk bin nyenengi nan sehat tak serta dibawa. Ditinggal! Bener-bener ditinggal! Sekali lagi “Ditinggal!”. Hayo?????
Jika anda tersinggung, saya pun demikian. Jika saya malu saya juga ora beda. Jika sampeyan ngeri sudah seharusnya, berarti otak logis dan ati kita ini masih bisa jalan dengan sinkron. Dan jika sampeyan mau berbenah dan memperbaiki diri, ayok. Saya juga mau demikian. Kita bareng –bareng nyeting ulang cara kita memandang dunia dan semua sipat fisiknya. Sifat kebendaan dan materi yang ga mungkin bisa kita peluk kita genggam selamanya. Seperti si Sapi sehat tadi, kelak rela ga rela, ikhlas ga ikhlas, ngedumel apa ga harus kita lepas.
Jadi mari berbareng-bareng kita seting ulang cara kita mikir bahwa hidup itu ga kekal. Dan tentu saja harus punya bekal. Hidup didunia buat nyari sangu mas-mba. Mari kita sama-sama saling ingat-mengingatkan coz-because manungsa cok gampang banget lali. Yuk kejar dunia dan selalu ingat kampoeng akhirat. Mau?^^ (17 Nov 2010)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar