Mungkin kalau kita merujuk kamus besar Bahasa Indonesia akan kita temukan sederet kalimat : lajang adalah belum pernah menikah, belum menikah, tidak menikah, atau suatu keadaan di mana belum memiliki pasangan dari lawan jenis untuk hidup dan berkehidupan bersama serta tinggal dalam satu rumah atau satu atap. Mungkin juga melenceng jauh dari perkiraan saya di atas, wong di kost an saya ukuran 2x3 meter ini emang belum di fasilitasi pendingin udara sama kamus besar kok. Mungkin kalau bayarannya dinaikin jadi 560 ribu perbulan bakal dibangun perpustakaan mini di lantai bawah, bekas gudang deket kamar mandi yang udah lama ga dibuka, dan tangga ke kamar saya di lantai 2 tentunya saya request ganti eskalator dua arah. Halah,,nggladrah.

Kalo dari kacamata saya sih,, (di dunia nyata saya ga pake kacamata) melajang itu berarti bebas, terbebas, suatu kegiatan menghirup udara di bawah rindangnya bukit senayan sepuas-puasnya, memenuhi paru-paru dengan berliter-liter oksigen bersih bebas debu, telentang di bawah hangatnya mentari jam 7-8 pagi, minum air telaga yang menyegarkan tapi ga sampe kembung dan ga bikin diare, atau minum degan ijo metik sendiri di punthuk (daerah di desa saya), atau terkena silir-silir angin di tribun atas Stadion sunter, dan masih banyak lagi deskripsi yang saya punya yang saya jamin ga bakal masuk rujukan buku cetak Pandai Bahasa Indonesia Jilid 3. Kasihan juga ngebayangin anak kelas 3 SD harus ngehafalin arti satu paragraf “Menurut Gunawan wibisana lajang adalah bla,,,,bla,,,,bla,,,,bli,,,,bli,,,bli,,,”. Kalo ga hafal ga naik kelas lho! Kalo ga sama persis nilainya di kurangi! Ah,,Masa-masa duduk di bangku sekolah.
Melajang
itu terbebas dari dua hal mas-mas mba-mba. Paling ga itu hikmah yang saya dapat
dari pengalaman saya. Dua hal. Apa itu?? Dua hal yang kalo saya ibaratkan
layaknya tali dadung (semacam tali
yang biasa buat ngiket kambing itu lho) yang dililitkan berulang-ulang, muter
dari bawah ketiak. Kenceng,,, kenceng,,, sampai buat nyedot nafas bunyi
“ngik-ngik”, buat neguk ora ketang satu
clegukan aja susah. Belum cukup,,
masih di iket sekali lagi,, didhobel bahasa
kerennya. Hah,,,bayangin aja ikut sesek.
Tali
itu fungsinya buat njiret mas-mas,
mba-mba. Makannya ada istilah tali kekang. Ya tali itu emang di pake buat njiret si objek yang dikekang biar ga
bisa lari. Bisa sapi, kebo, kambing, atau saya atau sampeyan. Bisa.
Jadi
melajang itu saya ibaratkan lepasnya dua jiretan
tali tersebut. Terlepas dari dua hal. Simple. Melajang itu berarti terlepas
dari “Mengekang” dan “dikekang”. Saya jadikan diri saya beserta sedikit
pengalaman saya (yang emang sedikit) sebagai objek penelitian.
Setelah
saya ikhlaskan diri saya sebagai pribadi lajang, alias jomblo, atau banyak
orang bilang dengan nada curiga dan penuh tanya: “gak laku?” entah mengapa
mulai saya rasakan longgarnya saluran pernafasan saya. Mungkin salah satu dadung tadi mulai melonggar atau bahkan
terlepas. Dan semakin saya nikmati eksistensi saya sebagai pribadi lajang
semakin longgar dan longgar. Seolah sembuh dari pilek sebelah selama seminggu.
Plong*
Setelah
saya merenung dan merenung ternyata saya temukan juga kunci dan tips jitu
melonggarkan pernafasan selain dengan permen mint (halah). Jadi kuncinya
ternyata i…kh….las… Yup. Ikhlas. Dengan menjadi lajang saya ikhlaskan siapa mau
ketemu siapa, siapa lagi ngapa, atau siapa berbuat apa. Hehehe,,, jadi saya
terlepas dari dadung pertama
”mengekang”. Yup, saya terlepas dari rasa otoritas saya yang begitu besar
terhadap seseorang atau sesosok benda hidup yang tentunya dapat bertindak
sesuai hasrat dan keinginannya tersendiri. Jadi pointnya saat kita memaksakan
kehendak kita terhadap benda hidup yang dilengkapi dengan akal pikiran, hasrat,
keinginan, dan indera yang masih berfungsi dengan baik atau dalam kata lain
“mengekang” maka saat itulah pelan-pelan satu
ler dadung mulai melilit. Satu
dua tarikan nafas kita mulai terasa berat. Beda halnya saat kita megang benda
mati mas-mas, mba-mba. Saat kita pengin baju ngegantung di balik pintu tinggal
kita gantung. Tanpa perlu bilang “Kamu aku taroh disini biar gampang aku
nyarinya, jadi jangan pindah-pindah ke tempat lain!!” si baju kotak-kotak yang
baru sekali dipake kondangan tak kan lari kemana-mana. Lain halnya saat yang
kita hadapi adalah mahluk hidup.
Dadung kedua
adalah saat kita berposisi sebagai objek dan si Dadung sebagai subjek. Layaknya dalam kalimat:
“Dadung mengikat Joni”.
“Dadung memangkas gerak Joni”
“Dadung membuat Joni susah bergerak”
Di
sinilah saat kita menjadi objek kekangan, saat itulah kita terjauh dari rasa
merdeka. Meredupnya eksistensi sebagai individu yang berhak menentukan
langkahnya sendiri. Tali kekang. Yang secara pelan-pelan merampas kebebasan
yang tadinya atau harusnya bisa kita dapatkan. “Anda ga boleh ini!! Anda harus
begitu!! Anda harus ini itu!! Lama-lama pasti kita akan lelah juga. Di satu
sisi, otoritas kita kandas, dan di sisi lain leher kita terkekang kencang dadung.
Jadi
saat saya merelakan diri saya sebagai pribadi sendiri, mandiri, dan rajin gosok
gigi, saat itulah saya dapati seteguk kebebasan dan nafas segar tentunya. Saya
lepas tali yang selama ini mengikat saya sebagai objek kekangan, begitu pun
sebaliknya saya tak berminat lagi untuk menjadi sesosok pengekang. Kita
masing-masing adalah individu bebas. Yang boleh menghirup udara segar saat kita
menemuinya, berhak merasakan hembusan angin sore di Stadion Sunter, berhak
berhubungan sosial dan berinteraksi dengan berbagai macam mahluk hidup, dan
sendiri itu menyenangkan. Paling tidak untuk saat ini. Aku menikmatinya.
I have a lot of friend around.
New experience. New story. New freedom. I feel refreshed.
NB: Bukan ngompor-ngompori untuk
tidak menikah lhoh ya!! Justru sebaliknya,,, kisah di atas saya ambil dari
pengalaman hubungan pra-nikah yang jauh cenderung ke negative. So, single I
think better for now. For me.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar