Minggu, 18 Maret 2012

Jangan-jangan jodoh??



Saya belajar hal baru lagi hari ini. Kepastian. Yap, tentang sebuah kepastian. Ternyata lagi – lagi saya mendapat pembenaran jikalau menungsa itu emang titahnya bikin rencana dan berusaha melaksanakan rencananya tersebut sebagai wujud pengaplikasian ide-ide dan gagasan yang ada di otaknya. Jadilah tangannya bergerak, kakinya melangkah. Sesekali bulir-bulir air keluar dari pori-pori kulit keningnya mengiringi getir-manisnya perjuangan, ikhtiar. Hohoy,,, Urusan nyampe tidaknya, tercapai enggaknya saya dan panjenengan ga bisa memastikan. Kadang hasil ikhtiar melelahkan berbuah hasil seperti yang kita rencanakan atau justru jauh lebih memuaskan. Itu yang orang sering bilang “manis”. Tapi sesekali juga bisa jadi rencana yang telah kita susun matang tidak berujung semanis yang kita harapkan. Tuh kan,,, ?? Kita ambil positifnya aja yuk.. ALLAH udah punya rencana yang lebih baik buat kita. Ga da usaha yang sia-sia. Dari proses kegagalan tersebut kita bisa belajar banyak hal.

          Nah sekarang kita ngomongin jodoh nih. Hehehe,, Apa ada yang berani memastikan siapa jodohnya siapa? Jodohku pasti Si Dia, Si Dia bukan jodohmu, atau Aku lah yang nanti mendampingimu. Halaah,,, gombeeellll. Tapi ga sedikit juga tuh yang percaya (geleng-geleng).

          Gampangnya saya kasih cerita aja deh. Diangkat dari kisah nyata paling menyentuh (hehe,,lebiih). Baru aja saya pulang bersama 2 orang teman kost saya setelah hampir seharian menghabiskan waktu di komplek Monumen Nasional. Kami berangkat bertiga dengan menyetop KOPAJA 502. Pulangnya kami menggunakan jasa Transjakarta. Dari halte Balai Kota sampailah kami di Halte Pasar Senen. Disitulah berjejer orang mengantri layaknya antrian kora-kora di Ancol. Puanjaaang.,. Begitu Bus datang hampir semua berebut untuk bisa masuk. Berdempet-dempet pun tidak apa asal bisa lebih dulu sampai tujuan. Wah-wah… Bus pun terpaksa mengangkut penumpang diluar kapasitasnya.

          Yeahh…!! Kami berhasil masuk di bus berikutnya. Berdiri tentu saja tapi tentu tidak sepenuh bus sebelumnya yang dipaksakan menampung begitu banyak penumpang. Turunlah kami di Halte Kebon Pala untuk kemudian ganti Bus lagi jurusan PGC. Disitulah petualangan kami dimulai. Tak berselang lama Bus jurusan PGC yang kami tunggu datang. Otomatis kami tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Matahari yang mulai menyiratkan garis garis senjanya (ceileeh..^^ ) memaksa kami untuk bergegas. Tapi naas (hehe) cuma yang saya yang diperkenankan masuk. Kondisi bus yang telah menampung begitu banyak penumpang tentu saja yang membuat sang kondektur Bus Transjakarta untuk mengambil kebijakan tersebut tanpa mau tahu bahwa kami bertiga seharusnya berada dalam satu rombongan. Pintu Bus tertutup dan Pak Pramudi lambat-laun menginjak pedal gasnya. Saya isyaratkan kepada kedua teman saya “Aku tunggu di GOR (Halte tujuan akhir kami)”.
          Disinilah kepastian yang saya bicarakan di awal mulai menunjukkan wujudnya. Wah, dalam benak saya lucu juga ternyata saya harus terpisah lebih dulu dari teman saya. Mereka mungkin masih terkekek melajutkan candaan-candaan kocak yang sempat terpotong saat turun di Halte transit ke dua. Saya nikmati perjalanan sendiri dan mandiri saya (Mandiri?). Sampailah saya di halte akhir. Menunggu dua teman saya yang tertinggal mungkin beberapa bus lagi di belakang. Tak sampai 10 Menit terlilihat sesosok kurus tinggi dengan tas ransel yang digendong di depan tengah bergelayutan di dalam bus yang berjalan pelan mengarah halte, bersesak-sesakan dengan penumpang lainnya. Mungkin karena begitu berdesak-desakannya penumpang yang ada di dalam membuat saya tak mampu menangkap satu sosok lagi yang seharusnya sedang bergelayutan juga tak jauh dari teman saya tadi.
          Dan benarlah tawa saya meledak. Yang keluar cuma dia seorang. Cienk namanya. Bus melaju kembali. “Wah2…Kocak… “, teriak saya diselingi tawa dan kepala yang menggeleng-geleng. Situasi yang diluar prediksi saya. Benar-benar diluar dugaan kalo kami harus terpencar dalm 3 bus berbeda saat perjalanan pulang. Gkgkgk.. perjalanan terkonyol.
          Usut-punya usut ternyata teman saya Si Depi sebenarnya sudah berhasil masuk Bus bersama Cienk tapi lagi-lagi kebijakan Sang Kondektur memisahkan mereka jua. Depi yang badannya tergolong Bongsor dipaksa keluar setelah disadari kehadirannya hanya menambah sumpek Bus yang memang sudah jejel riyel. Saya tambah tertawa geli setelah mendengar pengakuannya di Kost dengan mimik frustasi kalo ternyata dia memilih keluar dari halte dan Naik angkot 2x. Haduh2,,, geleng2..

          Disitulah saya tersadar. Banyak hal-hal yang terjadi di luar prediksi kita. Bahkan bisa jadi jauh dari kemungkinan-kemungkinan yang paling mungkin kita bayangkan. Layaknya cerita diatas, saat saya kira mereka yang akan sampai kost an bersama sedangkan saya berjalan lunglai sendirian. Ternyata justru mereka yang akhirnya terpisah.
          Mungkin begitupula dengan jodoh. Kadang dengan dibutakannya mata kita oleh pengalaman baru belabel “CINTA” begitu mudahnya dan dengan sok yakin berkata (paling tidak di dalam hati) “Dialah Jodohku”. “Aku tercipta hanya untukmu”, “Kita memang ditakdirkan untuk bersatu”, Halah,,halah…
          Sekali lagi cuma mengingatkan,, Gak ada dari kita mahluk nan lemah ini yang berkuasa memastikan, karena “Kepastian” hanya milikNYA.

Sabtu, 10 Maret 2012

Kesendirian



          Suatu waktu kesendirian itu bisa jadi hal yang sangat memilukan, menyedihkan, tapi di lain waktu malah justru membuat kita nyaman. Kondisional. Mungkin ada kalanya di waktu-waktu atau situasi tertentu kita memang ingin untuk sendiri dan tidak boleh diganggu. Atau bahkan ada mungkin beberapa tipe orang tertentu yang memang susah untuk bisa bergabung dalam suatu kelompok (baca : socializing). Jadi kata dan kondisi sendiri lebih membuatnya merasa nyaman. Tapi manusia memang sudah ditakdirkan untuk menjadi mahluk sosial sekaligus mahluk individu. Biar ga ribet mungkin maksudnya “Jadilah induvidu yang berjiwa sosial” hehehe. Intinya kalo hari minggu pak RT udah koar-koar suruh kerja bakti berarti bakal ada jajan pasar pelepas dahaga penunda lapar. Gkgkg..(ketawa model baru)
          Manusia sehebat apapun, sekuat, semandiri, dan setegar apapun tak akan mampu mengingkari kebutuhannya akan kehadiran orang lain. Jangan buru-buru di artikan ke cinta-cinta an dulu. Bukan itu yang kali ini pengin saya angkat, ‘Kehadiran orang lain’ bisa dimaknai sangat luas. Yang jelas saya ga mungkin nyukur rambut (kepala) saya sendiri sebulan sekali, mihara sapi terus meres susunya sehari dua kali, nanem pohon pisang trus ngambil pelepahnya buat dijemur sampai kering biar gampang buat ditenun jadi jelana jeans, baju koko, sama batik parang rusak. Hehehe. Repot ya. Untuk itulah kita selalu membutuhkan kehadiran orang lain di sekitar kita.
“Mbak, nasi satu, sayur asem, telor ceplok, gorengan 2”
“Enem ribu mas”. Jawab mbak-mbak wartegnya.
          Tuh kan bahkan makan siang aja manja banget minta dimasakin sama mbak-mbak yang bahkan belum tentu kita kenal sebelumnya. Maklum anak kost.
          Begitu banyak kebutuhan yang tidak mampu untuk kita cukupi sendiri, dan ujung-ujungnya bantuan dari orang lainlah yang kita andalkan. Begitupun sebaliknya apapun peran yang kita mainkan. Boss butuh bawahan, bawahan butuh Si Boss. Penulis butuh pembaca. Musisi butuh diapresiasi. Komplit.
         
          Kata mas-mas yang jualan ayam bakar deket pasar sawo, “ Ga ada asap kalo ga ada api”. Saya bisa ngomong demikian gara-gara baru ditinggal serombongan keluarga saya. Yap. Keluarga. Disini saya dapat keluarga baru. Mungkin atap yang pertama kali mengikat kami menjadi satu ikatan. Kami tinggal dalam satu rumah besar dengan belasan kamar didalamnya. Perbedaan aktivitas juga yang akhirnya memisahkan kami (saya tepatnya). Kost an yang biasanya riuh ramai dengan gelak tawa atau sekedar ejek mengejek sampai bertukar joke konyol copaste dari searching di kaskus, untuk sebelas hari kedepan nampaknya akan menjadi sedikit hening dan lengang.
          Beberapa teman ada yang sudah mudik menikmati liburan usai UAS yang beberapa diantara mereka bilang bikin rambut rontok. Beberapa lagi menikmati liburan dengan tema Praktek Kerja Lapangan di luar kota. Akhirnya hanya tinggal beberapa gelintir saja yang masih tertinggal termasuk saya.
          Dari sini saya belajar, memang tidak ada yang kekal (Kecuali ALLAH S.W.T). Gelak tawa yang tidak lagi terdengar, kamar yang biasanya dikunjungi banyak teman untuk sekedar menghabiskan waktu dengan geje, bangku buatan Pak Iwan yang biasa mengumpulkan kami sore hari atau pagi hari saat hari libur kini lebih sring kosong. Cuma saya yang mendudukinya di pagi hari. Menghabiskan sarapan nasi uduk plus telor dadar, sambil mengamati orang-orang yang hilir mudik di depan kost-an dengan urgensinya masing-masing.
          Makin menyadarkan seberapa senangpun saya dengan keramaian, gelak tawa, dan kehangatan yang tercipta saat berkumpul bersama, suatu saat kita pasti akan dihadapkan pada kesendirian. Situasi di mana kita benar-benar sendiri. Tak ada teman di kanan-kiri. Tak ada seorang pun untuk di ajak bicara. Saya meyakininya. Seyakin-yakinnya. Kita akan terpisah memasuki sekat kita masing-masing. Sekat yang membentuk ruang jauh-jauh lebih sempit dari kamar kost saya yang tergolong 3 terkecil diantara kamar-kamar lainnya. Sekat yang hanya mampu menampung tubuh kita dalam posisi tidur. Sekat dengan ukuran 1x2. Yap.. Kematian itu pasti. Kesendirian itu pasti..