Selasa, 01 Mei 2012

Arti kata "Melajang"

Mungkin kalau kita merujuk kamus besar Bahasa Indonesia akan kita temukan sederet kalimat : lajang adalah belum pernah menikah, belum menikah, tidak menikah, atau suatu keadaan di mana belum memiliki pasangan dari lawan jenis untuk hidup dan berkehidupan bersama serta tinggal dalam satu rumah atau satu atap. Mungkin juga melenceng jauh dari perkiraan saya di atas, wong di kost an saya ukuran 2x3 meter ini emang belum di fasilitasi pendingin udara sama kamus besar kok. Mungkin kalau bayarannya dinaikin jadi 560 ribu perbulan bakal dibangun perpustakaan mini di lantai bawah, bekas gudang deket kamar mandi yang udah lama ga dibuka, dan tangga ke kamar saya di lantai 2 tentunya saya request ganti eskalator dua arah. Halah,,nggladrah.




       
          Kalo dari kacamata saya sih,, (di dunia nyata saya ga pake kacamata) melajang itu berarti bebas, terbebas, suatu kegiatan menghirup udara di bawah rindangnya bukit senayan sepuas-puasnya, memenuhi paru-paru dengan berliter-liter oksigen bersih bebas debu, telentang di bawah hangatnya mentari jam 7-8 pagi, minum air telaga yang menyegarkan tapi ga sampe kembung dan ga bikin diare, atau minum degan ijo metik sendiri di punthuk (daerah di desa saya), atau terkena silir-silir angin di tribun atas Stadion sunter, dan masih banyak lagi deskripsi yang saya punya yang saya jamin ga bakal masuk rujukan buku cetak Pandai Bahasa Indonesia Jilid 3. Kasihan juga ngebayangin anak kelas 3 SD harus ngehafalin arti satu paragraf “Menurut Gunawan wibisana lajang adalah bla,,,,bla,,,,bla,,,,bli,,,,bli,,,bli,,,”. Kalo ga hafal ga naik kelas lho! Kalo ga sama persis nilainya di kurangi! Ah,,Masa-masa duduk di bangku sekolah.

          Melajang itu terbebas dari dua hal mas-mas mba-mba. Paling ga itu hikmah yang saya dapat dari pengalaman saya. Dua hal. Apa itu?? Dua hal yang kalo saya ibaratkan layaknya tali dadung (semacam tali yang biasa buat ngiket kambing itu lho) yang dililitkan berulang-ulang, muter dari bawah ketiak. Kenceng,,, kenceng,,, sampai buat nyedot nafas bunyi “ngik-ngik”, buat neguk ora ketang satu clegukan aja susah. Belum cukup,, masih di iket sekali lagi,, didhobel bahasa kerennya. Hah,,,bayangin aja ikut sesek.

          Tali itu fungsinya buat njiret mas-mas, mba-mba. Makannya ada istilah tali kekang. Ya tali itu emang di pake buat njiret si objek yang dikekang biar ga bisa lari. Bisa sapi, kebo, kambing, atau saya atau sampeyan. Bisa.

          Jadi melajang itu saya ibaratkan lepasnya dua jiretan tali tersebut. Terlepas dari dua hal. Simple. Melajang itu berarti terlepas dari “Mengekang” dan “dikekang”. Saya jadikan diri saya beserta sedikit pengalaman saya (yang emang sedikit) sebagai objek penelitian.

          Setelah saya ikhlaskan diri saya sebagai pribadi lajang, alias jomblo, atau banyak orang bilang dengan nada curiga dan penuh tanya: “gak laku?” entah mengapa mulai saya rasakan longgarnya saluran pernafasan saya. Mungkin salah satu dadung tadi mulai melonggar atau bahkan terlepas. Dan semakin saya nikmati eksistensi saya sebagai pribadi lajang semakin longgar dan longgar. Seolah sembuh dari pilek sebelah selama seminggu. Plong*

          Setelah saya merenung dan merenung ternyata saya temukan juga kunci dan tips jitu melonggarkan pernafasan selain dengan permen mint (halah). Jadi kuncinya ternyata i…kh….las… Yup. Ikhlas. Dengan menjadi lajang saya ikhlaskan siapa mau ketemu siapa, siapa lagi ngapa, atau siapa berbuat apa. Hehehe,,, jadi saya terlepas dari dadung pertama ”mengekang”. Yup, saya terlepas dari rasa otoritas saya yang begitu besar terhadap seseorang atau sesosok benda hidup yang tentunya dapat bertindak sesuai hasrat dan keinginannya tersendiri. Jadi pointnya saat kita memaksakan kehendak kita terhadap benda hidup yang dilengkapi dengan akal pikiran, hasrat, keinginan, dan indera yang masih berfungsi dengan baik atau dalam kata lain “mengekang” maka saat itulah pelan-pelan satu  ler dadung mulai melilit. Satu dua tarikan nafas kita mulai terasa berat. Beda halnya saat kita megang benda mati mas-mas, mba-mba. Saat kita pengin baju ngegantung di balik pintu tinggal kita gantung. Tanpa perlu bilang “Kamu aku taroh disini biar gampang aku nyarinya, jadi jangan pindah-pindah ke tempat lain!!” si baju kotak-kotak yang baru sekali dipake kondangan tak kan lari kemana-mana. Lain halnya saat yang kita hadapi adalah mahluk hidup.


          Dadung kedua adalah saat kita berposisi sebagai objek dan si Dadung sebagai subjek. Layaknya dalam kalimat:
Dadung mengikat Joni”.
Dadung memangkas gerak Joni”
Dadung membuat Joni susah bergerak”

          Di sinilah saat kita menjadi objek kekangan, saat itulah kita terjauh dari rasa merdeka. Meredupnya eksistensi sebagai individu yang berhak menentukan langkahnya sendiri. Tali kekang. Yang secara pelan-pelan merampas kebebasan yang tadinya atau harusnya bisa kita dapatkan. “Anda ga boleh ini!! Anda harus begitu!! Anda harus ini itu!! Lama-lama pasti kita akan lelah juga. Di satu sisi, otoritas kita kandas, dan di sisi lain leher kita terkekang kencang dadung.

          Jadi saat saya merelakan diri saya sebagai pribadi sendiri, mandiri, dan rajin gosok gigi, saat itulah saya dapati seteguk kebebasan dan nafas segar tentunya. Saya lepas tali yang selama ini mengikat saya sebagai objek kekangan, begitu pun sebaliknya saya tak berminat lagi untuk menjadi sesosok pengekang. Kita masing-masing adalah individu bebas. Yang boleh menghirup udara segar saat kita menemuinya, berhak merasakan hembusan angin sore di Stadion Sunter, berhak berhubungan sosial dan berinteraksi dengan berbagai macam mahluk hidup, dan sendiri itu menyenangkan. Paling tidak untuk saat ini. Aku menikmatinya.

I have a lot of friend around. New experience. New story. New freedom. I feel refreshed.


NB: Bukan ngompor-ngompori untuk tidak menikah lhoh ya!! Justru sebaliknya,,, kisah di atas saya ambil dari pengalaman hubungan pra-nikah yang jauh cenderung ke negative. So, single I think better for now. For me.