Kamis dini hari, 16 Februari 2012
Pernah kepikiran kah para pembaca sekalian tentang pentingnya mengisi data dengan benar pada waktu Registrasi kartu perdana entah itu GSM maupun CDMA? Mungkin kebanyakan dari kita termasuk saya sendiri selama ini tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang mengisi data dengan baik dan benar. Why?? Kenapa?? Yaelah,, orang tinggal nama diisi asal aja juga bisa. No KTP tulis 12345 juga udah jadi. Ngapain capek-cape buka dompet ngambil KTP nulis nomornya yang berdigit-digit. Trus terakhir taruh deh alamat ngawur sambil nyanyiin lagunya ayu ting-ting. Hahaha,, dan pihak operator juga percaya aja tuh ma kita. Ga pernah complain, apalagi sampai ngecek kebsahan alamat palsu yang kita kasih. Kekekek,, serasa jago ya kita.
Yep,, begitupun saya. Hehe. Apalagi kadang sempat juga ngaktifin nomor perdana yang emang sengaja mau dipake bukan buat waktu yang lama. Data instan bin ngawur pun terisi. Begitu juga waktu saya aktifin salah satu no GSM baru saya sekitar 2 tahun lalu. Lagi-lagi entah nama siapa atau nama apa malah, No Sepatu mungkin (yang seharusnya No. KTP), dan tentu saja alamat palsu. Eh, gak nyangka dengan berbagai macam alasan dan kemudahan yang saya dapat ternyata kartu tersebut bertahan saya pakai lebih dari dua tahun lamanya. Cengirrr.. dan baru beberapa minggu yang lalu hape saya hilang (diambil orang..hiks) lengkap beserta kartu GSM tersebut yang kebetulan baru saja saya isi pulsa senilai Rp. 25.000 (Double Hikss..). Masih belum cukup, satu lagi kartu tersebut juga masih ada deposit pulsa nominal sekian ratus ribu (kurang lebih Rp.700.000) Triple Hiks.. deh.
Kali ini bukan rasa kehilangan yang ingin saya bahas. Tapi saya lebih menyoroti kemudahan yang saya dapat di kemudian hari. Yap, setelah 2-3 hari berselang saya sempatkan mengunjungi galeri operator kartu GSM tersebut guna mendapatkan akses kembali atas kartu saya yang hilang. Pelayanan yang baik saya dapatkan. Tidak sampai setengah jam sudah saya genggam kartu perdana, baru tentunya dan masih gres tapi tentu saja dengan nomor lama yang hilang tersebut.
Dalam proses yang memakan waktu tidak sampai setengah jam saya dapatkan pelajaran pentingnya mengisi Data dan Identitas dengan baik dan benar. Woow… Karena yang pertama kali petugas operator Tanyakan kepada saya adalah:
1. Nama
2. Nomor yang kita klaim sebagai nomor kita
Setelah kita menulis nama dan nomor kita lalu sang mbak-mbak operator akan mengeceknya di database. Dan yang keluar ternyata bukan nama saya. Lho?? Kok?? Iyalah, kan udah 2 tahun lewat. Mana saya ingat dulu saya ngisi pake nama apaan waktu Registrasi kartu. Yang jelas pasti suatu nama yang aneh soalnya mbak-mbak dan Bapak-bapak opertatornya (kebetulan 2 orang yang mengecek bersama) mengerutkan keningnya dengan kompak. Hadeh,,,
Tapi bukan berarti kita serta merta langsung ditolak, dan pihak operator langsung lepas tangan. Ga kok, mereka baik. Kita akan dipersilahkan duduk sebentar untuk kemudian mengisi serangkaian tes, jiah,,,,lebih. Kita akan disuruh mengisi Nama dan Identitas kita dengan benar dan sekali lagi menulis nomor yang hilang tersebut. Trus ini ni yang keren,, kita diharuskan mengingat dan menulis 10 nomor yang biasa kita hubungi. Hehehee, bisa jadi temen kita, orang tua kita,, atau rekan bisnis, atau siapa aja yang punya intensitas cukup tinggi kita hubungi selama kita menggunakan nomor yang hilang tersebut. Garuk-garuk kepala deh,, emang gampang ngapalin nomor hape?? Hehehe.. Walhasil sayapun berhenti pada nomor ke delapan. Yap, hanya 8 Nomor telepon yang berhasil saya ingat digitnya dengan sempurna (termasuk nomor telepon rumah sendiri).
“Ok. Delapan juga sudah cukup kok mas”. Seolah dapet air seliter di tengah-tengah gurun pasir mendengar kata-kata petugas operatornya tadi.
Eits, masih belum cukup. Kepercayaan itu mahal lho. Ga segitu aja Operator langsung percaya kalo nomor tersebut memang betul-betul punya kita. Terakhir kita dibuatkan surat pernyataan yang isi persisnya saya ga ingat. Tapi intinya kurang lebih:
1. Kita benar-benar pemilik nomor yang hilang tersebut
2. Kita bertanggung jawab sepenuhnya atas klaim kita pada nomor tersebut
3. Jika ada pihak ketiga yang ngaku-ngaku nomor tersebut punya dia (kurang ajar ga sih?) pihak operator ga ikut bertanggung jawab
4. Jika terbukti nomor tersebut bukan milik kita dan menimbulkan masalah dikemudian hari siap-siap deh berhubungan sama badan hukum dan pihak yan berwajib
Terakhir kita bubuhi tanda tangan kita di atas materai senilai Rp 6.000. Nah lo?? Tapi ga perlu kuatir juga kalo kita berada di jalur yang benar. Kalo nomor tersebut bener-bener punya kita, ga perlu kuatir mau bikin surat pernyataan berapa lembar kek, atau sekalian mau sumpah pocong (ga dink.. yang ini ga usah).
Ok,, jadi itulah tadi kisah saya diatas. Setelah panjang kali lebar marilah kita tarik kesimpulan untuk paling tidak mulai kepikiran untuk mengisi Data dan Identitas dengan baik dan benar.
Nb: Pulsa pada nomor saya yang hilang tersebut ternyata sama sekali tidak berkurang. Jadi pulsa kita ga dimulai dari nol lagi. Wah,, senangnya..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar