Sabtu, 11 Januari 2014

Aroma


Sabtu, 11 January 2014
12.32 a.m

Seolah udah berabad-abad nih ga nulis lagi. Antara sibuk sama tanggung jawab dan selebihnya setress berat mikirin kerjaan dan tugas yang tiap hari seolah ditimbun tambah tinggi. Iyaaa lah orang jarang dipegang, dikerjain.

Ini btw tanggalnya ngingetin lagunya Gigi, 11 januari bertemu menjalani kisah cinta ini… *eyaaa. Haha, intinya ini nulis di sini gara-gara 5 menit yang lalu gue baru memecahkan sebuah kasus *pasang kaca mata item. Yap, mungkin kebanyakan nonton Sherlock holmes kali ya jadi insting kedetektifan gue langsung terasah dengan sendirinya.

Gue lagi beres-beres kamar setelah berminggu-minggu dalam kondisi seabsurd kapalnya Captain Barbosa sehabis diacak-acak ma Jack Sparrow trus dihantam ombak besar. Gue balik jam 11 malem, mau tidur tapi ga betah liat kamar yang acak-acakan. Jadilah operasi semut sebelum sleeping beauty (handsome kali ya). Lagi design ulang kamar mendadak idung gue seolah disuguhi aroma tertentu. Aroma yang ga sedap. Iya gue belom mandi, tapi gue yakin bukan berasal dari area ketiak dan sekitarnya. Gue nyium aroma-aroma terbakar. Asep lebih tepatnya. Sate? Bukan. Gue mulai curiga. Ada yang ga beres di kostan ALLMAXS ini.

Gue coba keluar kamar dan bener aromanya semakin tajam. Rasa khuznudzon gue ngira itu tetangga yang bakar sampah di bawah. Tapi naluri detektif gue ga segitu mudahnya tunduk. Gue turun ke lantai bawah (sambil tetep ngendus-ngendus). Gue keluar ke teras nyoba cari tau apa lagi ada yang lagi bakar sampah atau plastik atau bakar ban ternyata nihil (sekalian buang sampah juga sih). Aromanya justru udah semakin kabur di teras depan. Gue masuk lagi ke dalem, coba gue lewatin gudang sambil nyoba nyari asal muasal aroma tadi. Kecium, tapi tetep ga sekuat di atas. Gue balik lagi ke lantai duabener tambah kenceng aja nih bau plastik atau kabel kebakar. Asal muasal aroma tadi masih tetep belom bisa gue identifikasi keberadaannya.

Layaknya Sherlock Holmes yang punya temen buat ngebantu mecahin kasusnya gue coba bangunin mahluk malam yang sekiranya jam-jam segini belom tertidur. Depi. Yap, gue ketok-ketok kamarnya di lantai 1  (gue turun lagi nih). Gimanapun juga kasus ini harus segera terungkap. Lantai atas sebagian materialnya dari kayu, jadi kalo aroma aneh ini ga bisa cepet-cepet dipecahkan gue bisa prediksi kejadian buruk apa yang bisa terjadi. Gue bener-bener berpacu sama waktu.

Depi bangun. Persis sama kayak temennya Sherlock Holmes (yang pinter dan jago analisis) depi ternyata juga udah mencium kejanggalan ini beberapa menit yang lalu. Jadilah kita berdua kelilingin seluruh ruangan allmaxs nyari si sumber aroma tak sedap tadi. Kembali gue ma depi menjelajahi lantai dua tempat dimana aroma asap tadi kecium kuat. Persis di depan kamarnya Mas Hafidz dan Mas Adit. Bahkan lorong menuju kamar atas ujung sebelah utara gue liat ada asap tipis.

Masih nihil. Gue ma depi bener-bener beradu cepet ma waktu. Gue mulai mikir mungkin ini kabel yang konslet di langit-langit lantai 1 deket tangga. Gue turun lagi ma depi ke lantai satu. Tak disangka ada Pak Umar (penghuni kost senior nih) yang juga tengah merasakan kegundahan yang sama. Ga bisa tidur gara-gara nyium aroma ga sedap ini. Kita memang bukan peramal, tapi logika kita bikin kita sigap kalo asep bakal berujung ke api!

Jadilah kita dapat suntikan SDM dengan bantuan hidung Pak Umar yang bisa dibilang cukup tajam (mancung juga sih emang). Sampailah kecurigaan kita di lorong kamar Mas Rohim. Gue lihat ada asap tipis di situ. Kita masih mikir kemungkinan kabel konslet di atas langit-langit lantai satu di atas lorong kamar tadi. Kita mulai kehabisan waktu. Kita ketok kamar mas rohim. Ga ada suara. Cuma kedengeran siaran salah satu stasiun tv dari handphone China punya Mas Rohim yang emang biasa dinyalain mpe pagi. Gue ketok tambah kenceng. Ga ada jawaban. Kita mulai khawatir, asap tipis ternyata juga keluar dari fentilasi kamar mas rohim. Ah, Pak Umar ambil bangku buat ngeliat dari fentilasi. Dia teriak, “Bener! Asepnya ngebul di dalam”.

Gue ma depi gedor pintu mas rohim tambah kenceng. Masih ga ada suara. Gue intip dari lubang pintu ada hitter yang masih dinyalain di atas karpet, asap yang ngepul, ma mas rohim yang meringkuk tak berdaya. Ah! Dia pingsan! Itu yang ada di benak kita.

Tak ada jalan lain, pintu gue dobrak ma depi. “Braaak!!!!” Kebuka. Dan mas rohim terlihat masih terkapar. Gue batuk-batuk ngirup asep yang mengepul di dalam. Ga lama kemudian mata lentik mas rohim mengerjap-ngerjap genit (ga ding. hehe). Mas Rohim tersadar! Mas rohim ga pingsan ternyata, tapi tertidur terlalu pulas. Segera kita suruh nyabut tuh hitter yang udah gosong dan nyuruh dia keluar. Asepnya kagak nahan mas bro.

Dan kasuspun terpecahkan. Pagi buta ini gue dan sohib gue depi jadi detektif dadakan. Bukan cuma Mas Rohim yang terselamatkan pagi buta ini, tapi juga keberlangsungan kehidupan di Allmaxs. Dan kita bisa lanjut tidur pagi buta ini tanpa bayang-bayang asep dan api. Yap, satu lagi kisah tentang ALLMAXS. Kisah tentang aroma. Ya, aroma. *Hoaaamh…




Jumat, 05 Juli 2013

Gagal nangkep maling




Tadinya saya mau kasih judul “Psikologi terbalik dan ronda malam dadakan” atau “kisah 3 pemuda tampan melawan kejahatan”,  tapi berakhir dengan judul sepolos di atas, “Gagal nangkep maling”. Karena kenyataannya kami emang gagal. Ini saya nulis antara pengen ketawa, gemes, pengen mukul tuh maling (tapi udah kabur juga orangnya), tapi satu sisi juga pengen ngebegoin diri sendiri kenapa dengan mudahnya membiarkan si orang tak dikenal tadi lepas dari dekapan (ini hiperbolis ya, yakali peluk-pelukan).
Kejadiannya masih anget banget. Tadi pagi jam 3 dini hari saudara-saudara. Saat saya sedang pulas-pulasnya dalam kondisi sleeping beauty sementara tetangga sebelah kamar saya lagi dengan khusyuk mendirikan sholat qiyamul lail (sebut saja Hafidz). Di tengah keheningan 1/3 malam yang terakhir di mana sebagian besar orang tengah terbuai dengan mimpi indahnya (iya-iya termasuk saya) Mas hafidz yang notabene tengah menjalankan sholat witir sebagai penutup qiyamul lail terpaksa membatalkan sholatnya. Kenapa? Karena insting bertahan hidupnya tiba-tiba aktif saat didengarnya suara langkah kaki mengendap-endap menuju lantai 2. (Kamar kami di lantai 2).
Dengan sigap dia keluar dan memergoki seorang anak (seumuran anak SMP kelas 3 kalo dia sekolah) mengenakan topi yang ternyata sudah bercokol di lantai dua depan kamar Haerul yang memang berada di dekat tangga.
“Ada orang!” Teriak Mas Hafidz. Matanya  menatap tajam ke arah anak tadi.
“Heh, Ngapain kamu naik-naik ke atas!?”. Bentaknya. Sambil menggedor pintu kamar haerul mencoba mencari bantuan.
Saya pun terbangun mendengar suara ribut tadi. Kost-an kami memang terbilang rawan kejahatan. Sudah beberapa kali terjadi tindak pencurian, dari sepeda, handphone, sampai laptop melayang. Mungkin itu kenapa saya dengan mudah terbangun walaupun baru tidur beberapa jam yang lalu. Mau tidak mau kami terlatih untuk lebih peka.
Saya segera keluar kamar. Terlihat Mas Hafidz dan Haerul tengah beradu mulut dengan anak yang memakai topi tadi. Saya mendekat. Tanpa bertanya, mencoba mencari informasi dengan mendengar pembicaraan mereka sembari menunggu kesadaran saya benar-benar kembali.
“Eh gue orang sini bang!” Teriak anak tadi.
“Gue nemenin temen gue bok*r di bawah”. Dengan nada tinggi membela diri. Tak lama temannya dari bawah muncul. Sesosok pemuda mungkin seumuran anak kelas 3 SMA, 18 atau 19 tahun. Berbadan cukup bongsor dengan rambut ikal dan kulit hitam muncul dari bawah menaiki tangga.
“Eh, bang kita orang sini! Kalo ga gini aja deh, temen gue banyak di luar nungguin. Kita selesein deh di luar!” Ancamnya membela temannya tadi.
“Gila ya! Baru pernah gue diginiin ma pendatang!” Ucap anak yang bertopi tadi jengkel sambil menuruni tangga.
Lah, saya yang baru muncul justru bingung. Ini kok jatohnya jadi saya bertiga yang salah. Negur orang yang jam 3 pagi mengendap-endap di rumah tinggal kami adalah perbuatan yang salah? Loh? Mereka melenggang keluar sementara kami bertiga saling bertatapan.
“Gimana? Ke bawah ga? Bener ga temennya banyak di bawah?”
            Akhirnya kami susul ke bawah dan benar saja sosok ke dua orang tadi telah menghilang ditelan keheningan 1/3 malam. Ah, kami bangunkan teman kost yang lain. Jadilah kami menyusuri jalan, gang-gang, menanyai bapak-bapak yang tengah main catur apakah melihat sosok 2 orang yang tengah kami kejar Setengah jam tanpa hasil kami kembali ke kost-an.
            Ah, dan tentu saja menyumpahi kebodohan kami tadi. Kenapa dengan polosnya membiarkan 2 anak tadi kabur hanya dengan gertak sambel dari mereka. Kenapa dengan mudahnya kami dibodohi hanya dengan permainan kata “orang sini” dan “pendatang”. Baru logika saya mulai jalan. Baru bisa benar-benar saya simpulkan kedua anak tadi memang bukan termasuk golongan orang-orang yang berada di jalan yang lurus.
            Bayangin jam 3 pagi, beralasan numpang bok*r di kost-an kami dan mengendap-endap ke lantai 2. Mau “orang sini” mau orang sono kek tetep aja itu kriminal.
            Tapi nasi sudah menjadi bubur berbarengan dengan kedua anak tadi yang jelas sudah kabur. Kami emang dengan mudahnya dibodohi, tapi cukup sekali. Bener nasi emang udah jadi bubur, tapi jangan salah kita lagi nyiapin bubur ayam spesial. Udah kami rapatkan tadi untuk meningkatkan keamanan dan kewaspadaan di kost-an mengingat emang udah mau masuk bulan ramadhan. Bukannya apa-apa justru beberapa pihak memanfaatkan momen ini untuk melakukan tindak kejahatan. Kost-an kami kecolongan ramadhan tahun lalu usai santap sahur. Laptop dan BB punya Rully tinggal kenangan.
            Jadi masing-masing dari kami harus mampu mempersenjatai diri, dan rencananya kami bakal pasang sistem alarm kayak alarm kebakaran gitu. Biar kalo ada apa-apa semua bisa langsung bereaksi. Kami juga sedang menyiapkan surat persetujuan dari RT setempat yang natinya kurang lebih bunyinya: Mau orang sini mau orang sono kek, kalo masuk kost-an lebih dari jam 10 bakal diinterogasi, kalo lebih dari jam 12 dengan senang hati boleh dihakimi.
            Mengingat kost an kami yang emang selama ini terlalu open sama orang luar ini saatnya kita bikin batas. Rule baru. Dan tentu dengan persetujuan pejabat setempat sebagai penanggung jawab. Intinya kejahatan bisa terjadi bukan hanya dari niat pelakunya, tapi juga karena adanya kesempatan. Jadi waspadalah-waspadalah teman (Niruin kata bang napi).



Jumat, 07 Juni 2013

On time

               Lagi-lagi saya dipaksa belajar. Bahkan mungkin disaat materi yang saya dapat sebelumnya belum sepenuhnya saya kuasai. Di saat saya sedang tertatih-tatih memaknai arti sederet kata tentang peenghargaan terhadap waktu, di saat yang bersamaan saya dipaksa untuk mau mengerti tentang ambang ikhtiar. Tambahan materi yang ternyata bersinergi.
                Lagi-lagi tidak ada asap kalo tidak ada api (kata mas-mas yang jualan ayam bakar di pasar sawo). Seperti biasa saya bisa bercerita panjang kali lebar di sini setelah sebelumnya saya mendapatkan sebuah pengalaman. Bisa pengalaman-pengalaman yang menyenangkan, menggelitik, mengharukan, bikin serem, atau sebuah tamparan, sepenggal hari yang harus saya lalui dengan rasa malu. Yap. Dan mungkin salah satunya adalah hari ini.
                Singkatnya saya sedang membangun sebuah budaya. Ketinggian ya? Mungkin saya bukan siapa-siapa. Iya betul. Saya mungkin ga bisa merubah dunia. Iya betul. Tapi satu hal yang dari dulu saya yakini, saya bisa merubah diri saya. Dan pengaruhnya bukan cuma saya yang merasakan, tapi tiap orang yang bersinggungan dengan saya. Entah secara langsung maupun tidak langsung. Dan orang-orang yang bersinggungan tadi punya garis singgung juga dengan orang-orang lain di sekitarnya. Hem, bingung?
                Ok kalo bingung kita skip langsung ke casenya. Saya sedang membangun suatu kebiasaan kalo ga boleh dibilang budaya. Kebiasaan tepat waktu alias on time. Bahkan kata on time saya tulis dengan garis miring karena merupakan kata dari bahasa asing atau bahasa serapan. Jadi kata on time emang belum sepenuhnya kepunyaan orang-orang kita. Traidisi on time masih kalah populer sama jam karet yang hampir semua orang kita punya dan pake. Termasuk saya, iya-iya.
                Untuk itulah saya pengen berubah, sukur-sukur merubah. Saya sedikit banyak belajar dari pengalaman rapat-rapat di satu even yang bisa dikatakan hampir selalu ngaret. Bahkan berjam-jam. Dan di hari H pelaksanaan saya kejatah jadi tukang time keeper. Orang yang memastikan acara bakal berjalan sesuai run-down yang udah dibikin. Memastikan tiap sesi acara berjalan tepat waktu.
                Dari pengalaman tadi saya tersentil. Jadi time keeper buat acara aja bisa kenapa ga jadi time keeper pula untuk diri sendiri? Pertanyaan yang mungkin perlu dicerna tanpa perlu dijawab.
                Saya megang sebuah divisi di salah satu organisasi. Katakanlah sebagai koordinator di katakanlah divisi KPMM. Kami punya program kerja. Dan tentunya kami butuh meluangkan waktu setidaknya untuk duduk bersama menyusun rencana agar program terlaksana (Cieh, akhirannya “a” semua). Orang-orang menyebutnya rapat. Ok rapat. Dan untuk rapat sendiri biasanya orang-orang lebih sepakat untuk menjadikan jam karet sebagai standar waktu bersama. Jadilah di kebanyakan rapat selalu dimulai mundur beberapa satuan waktu dari yang diagendakan. Bisa semenit, 15 menit, sejam, 2 jam. Bisa.
                Beruntunglah anggota saya tidak terlalu banyak. Tiap rapat tidak lebih dari 2  orang (sudah termasuk saya ya) yang datang. Dan keduanya memang sebagai koordinator. Jadi kebiasaan baru ini seharusnya tidak terlalu sulit diterapkan dan dibiasakan. Toh satu teladan lebih bermakna dari seribu kata (kata siapa saya lupa). Apalagi dimulai dari koordinatornya. Dengan semangat 45 dan optimisme yang meletup saya tuangkan maksud dan gagasan saya.    
                “Kenapa rapat selalu molor? Kalo emang bisanya datang jam 9 kenapa harus bikin janji jam 8? Kenapa saat dapat jarkom rapat 8 di masing-masing kepala tiap orang merencanakan datang jam 9? Ini berarti seolah ada persetujuan yang tidak tertulis bahwa tiap rapat pasti bakal dimulai mundur setidaknya satu jam. Dan dengan datang tepat waktu atau bahkan sebelum jam 8 berarti konyol karena sudah pasti kepagian dan belum ada yang datang”. Seolah berorasi di depan ribuan anggota, padahal yang datang cuma satu.
                “Kenapa ga jujur aja dari awal, kalo emang bisanya jam 9 ya kita terbuka ngomong jam 9. Kita agendakan besok tanggal sekian rapat jam 9, tapi ON TIME. Kenapa harus pura-pura bisa datang rapat dimulai jam 8 padahal dalam kepala masing-masing sudah bikin rencana mau datang jam 9”. Tambah menggebu-gebu.
                “Kita ga usah lah merubah Indonesia, ga usahlah merubah organisasi kita, kita mulai rubah dari tempat terkecil, hal terkecil: Divisi kita. Kita biasakan anggota kita kalo rapat on time. Saat itu sudah menjadi sebuah kebiasaan secara otomatis orang-orang yang bersinggungan dengan kita akan terkena efeknya. Saat kita rapat bersama dengan divisi lain misalnya, saat kita sudah terbiasa dan mereka belum, siapa yang malu? Siapa yang memberikan teladan? Siapa yang pada akhirnya mencoba untuk ikut berubah?”
                Jadilah kebiasaan menghargai waktu tertanam. Dan hal tersebut selalu diawali dengan sebuah aprovement di awal dalam membuat janji. Menentukan jam berapa kira-kira untuk bisa hadir tepat waktu. Awal yang manis. Manis. Sungguh.
                Sayapun mengira akan terus berjalan demikian. Sampai pagi tadi saya sendiri yang menodainya. Sebuah pesan singkat saya terima yang intinya besok rapat seperti biasa pukul 8 on time.
                Dengan percaya dirinya saya membalas:
“ON TIME. Terutama untuk koordinator dan tukang jarkomnya. Yuk jadi pioner. Mulai dari diri sendiri, mulai dari KPMM ^^”.
                Dan siapa sangka kebiasaan baik yang dengan perlahan mulai terbangun, saya sendiri yang justru menggoyahkannya. Saya pulang terlalu larut kalo tidak boleh dibilang dini hari usai menghadiri kegiatan di fakultas. Dan mungkin saya juga teledor lupa menyetel alarm di handphone karena sudah tidak sabar membuat garis singgung antara punggung dan kasur. Tertidur. Dan duhaaiii,, janganlah ditanyakan apa itu arti on time kepada orang yang pulas. Duhaaii,,, jangan tanyakan tentang menghargai waktu. Jangan pula tanyakan apa kata “maaf” masih mampu membuat lisan dan tindakan ini nampak selaras
                Duhaiii Tuhanku. Sesungguhnya hambamu inilah yang sombong. Lupa bahwa manusia hanyalah pembuat rencana.

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,  kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini."(Qs. Al Kahfi/18  ayat 23 dan 24).