Tadinya
saya mau kasih judul “Psikologi terbalik dan ronda malam dadakan” atau “kisah 3
pemuda tampan melawan kejahatan”, tapi
berakhir dengan judul sepolos di atas, “Gagal nangkep maling”. Karena kenyataannya
kami emang gagal. Ini saya nulis antara pengen ketawa, gemes, pengen mukul tuh
maling (tapi udah kabur juga orangnya), tapi satu sisi juga pengen ngebegoin
diri sendiri kenapa dengan mudahnya membiarkan si orang tak dikenal tadi lepas
dari dekapan (ini hiperbolis ya, yakali peluk-pelukan).
Kejadiannya
masih anget banget. Tadi pagi jam 3 dini hari saudara-saudara. Saat saya sedang
pulas-pulasnya dalam kondisi sleeping
beauty sementara tetangga sebelah kamar saya lagi dengan khusyuk mendirikan
sholat qiyamul lail (sebut saja Hafidz). Di tengah keheningan 1/3 malam yang
terakhir di mana sebagian besar orang tengah terbuai dengan mimpi indahnya
(iya-iya termasuk saya) Mas hafidz yang notabene tengah menjalankan sholat
witir sebagai penutup qiyamul lail terpaksa membatalkan sholatnya. Kenapa?
Karena insting bertahan hidupnya tiba-tiba aktif saat didengarnya suara langkah
kaki mengendap-endap menuju lantai 2. (Kamar kami di lantai 2).
Dengan
sigap dia keluar dan memergoki seorang anak (seumuran anak SMP kelas 3 kalo dia
sekolah) mengenakan topi yang ternyata sudah bercokol di lantai dua depan kamar
Haerul yang memang berada di dekat tangga.
“Ada
orang!” Teriak Mas Hafidz. Matanya
menatap tajam ke arah anak tadi.
“Heh,
Ngapain kamu naik-naik ke atas!?”. Bentaknya. Sambil menggedor pintu kamar
haerul mencoba mencari bantuan.
Saya
pun terbangun mendengar suara ribut tadi. Kost-an kami memang terbilang rawan
kejahatan. Sudah beberapa kali terjadi tindak pencurian, dari sepeda,
handphone, sampai laptop melayang. Mungkin itu kenapa saya dengan mudah
terbangun walaupun baru tidur beberapa jam yang lalu. Mau tidak mau kami
terlatih untuk lebih peka.
Saya
segera keluar kamar. Terlihat Mas Hafidz dan Haerul tengah beradu mulut dengan
anak yang memakai topi tadi. Saya mendekat. Tanpa bertanya, mencoba mencari
informasi dengan mendengar pembicaraan mereka sembari menunggu kesadaran saya
benar-benar kembali.
“Eh
gue orang sini bang!” Teriak anak tadi.
“Gue
nemenin temen gue bok*r di bawah”. Dengan nada tinggi membela diri. Tak lama
temannya dari bawah muncul. Sesosok pemuda mungkin seumuran anak kelas 3 SMA,
18 atau 19 tahun. Berbadan cukup bongsor dengan rambut ikal dan kulit hitam
muncul dari bawah menaiki tangga.
“Eh,
bang kita orang sini! Kalo ga gini aja deh, temen gue banyak di luar nungguin.
Kita selesein deh di luar!” Ancamnya membela temannya tadi.
“Gila
ya! Baru pernah gue diginiin ma pendatang!” Ucap anak yang bertopi tadi jengkel
sambil menuruni tangga.
Lah,
saya yang baru muncul justru bingung. Ini kok jatohnya jadi saya bertiga yang
salah. Negur orang yang jam 3 pagi mengendap-endap di rumah tinggal kami adalah
perbuatan yang salah? Loh? Mereka melenggang keluar sementara kami bertiga
saling bertatapan.
“Gimana?
Ke bawah ga? Bener ga temennya banyak di bawah?”
Akhirnya kami susul ke bawah dan benar
saja sosok ke dua orang tadi telah menghilang ditelan keheningan 1/3 malam. Ah,
kami bangunkan teman kost yang lain. Jadilah kami menyusuri jalan, gang-gang,
menanyai bapak-bapak yang tengah main catur apakah melihat sosok 2 orang yang
tengah kami kejar Setengah jam tanpa hasil kami kembali ke kost-an.
Ah, dan tentu saja menyumpahi
kebodohan kami tadi. Kenapa dengan polosnya membiarkan 2 anak tadi kabur hanya
dengan gertak sambel dari mereka. Kenapa dengan mudahnya kami dibodohi hanya
dengan permainan kata “orang sini” dan “pendatang”. Baru logika saya mulai
jalan. Baru bisa benar-benar saya simpulkan kedua anak tadi memang bukan
termasuk golongan orang-orang yang berada di jalan yang lurus.
Bayangin jam 3 pagi, beralasan numpang
bok*r di kost-an kami dan mengendap-endap ke lantai 2. Mau “orang sini” mau
orang sono kek tetep aja itu kriminal.
Tapi nasi sudah menjadi bubur
berbarengan dengan kedua anak tadi yang jelas sudah kabur. Kami emang dengan
mudahnya dibodohi, tapi cukup sekali. Bener nasi emang udah jadi bubur, tapi
jangan salah kita lagi nyiapin bubur ayam spesial. Udah kami rapatkan tadi
untuk meningkatkan keamanan dan kewaspadaan di kost-an mengingat emang udah mau
masuk bulan ramadhan. Bukannya apa-apa justru beberapa pihak memanfaatkan momen
ini untuk melakukan tindak kejahatan. Kost-an kami kecolongan ramadhan tahun
lalu usai santap sahur. Laptop dan BB punya Rully tinggal kenangan.
Jadi masing-masing dari kami harus
mampu mempersenjatai diri, dan rencananya kami bakal pasang sistem alarm kayak
alarm kebakaran gitu. Biar kalo ada apa-apa semua bisa langsung bereaksi. Kami
juga sedang menyiapkan surat persetujuan dari RT setempat yang natinya kurang
lebih bunyinya: Mau orang sini mau orang sono kek, kalo masuk kost-an lebih
dari jam 10 bakal diinterogasi, kalo lebih dari jam 12 dengan senang hati boleh
dihakimi.
Mengingat kost an kami yang emang
selama ini terlalu open sama orang luar ini saatnya kita bikin batas. Rule baru. Dan tentu dengan persetujuan
pejabat setempat sebagai penanggung jawab. Intinya kejahatan bisa terjadi bukan
hanya dari niat pelakunya, tapi juga karena adanya kesempatan. Jadi
waspadalah-waspadalah teman (Niruin kata bang napi).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar