Jumat, 07 Juni 2013

On time

               Lagi-lagi saya dipaksa belajar. Bahkan mungkin disaat materi yang saya dapat sebelumnya belum sepenuhnya saya kuasai. Di saat saya sedang tertatih-tatih memaknai arti sederet kata tentang peenghargaan terhadap waktu, di saat yang bersamaan saya dipaksa untuk mau mengerti tentang ambang ikhtiar. Tambahan materi yang ternyata bersinergi.
                Lagi-lagi tidak ada asap kalo tidak ada api (kata mas-mas yang jualan ayam bakar di pasar sawo). Seperti biasa saya bisa bercerita panjang kali lebar di sini setelah sebelumnya saya mendapatkan sebuah pengalaman. Bisa pengalaman-pengalaman yang menyenangkan, menggelitik, mengharukan, bikin serem, atau sebuah tamparan, sepenggal hari yang harus saya lalui dengan rasa malu. Yap. Dan mungkin salah satunya adalah hari ini.
                Singkatnya saya sedang membangun sebuah budaya. Ketinggian ya? Mungkin saya bukan siapa-siapa. Iya betul. Saya mungkin ga bisa merubah dunia. Iya betul. Tapi satu hal yang dari dulu saya yakini, saya bisa merubah diri saya. Dan pengaruhnya bukan cuma saya yang merasakan, tapi tiap orang yang bersinggungan dengan saya. Entah secara langsung maupun tidak langsung. Dan orang-orang yang bersinggungan tadi punya garis singgung juga dengan orang-orang lain di sekitarnya. Hem, bingung?
                Ok kalo bingung kita skip langsung ke casenya. Saya sedang membangun suatu kebiasaan kalo ga boleh dibilang budaya. Kebiasaan tepat waktu alias on time. Bahkan kata on time saya tulis dengan garis miring karena merupakan kata dari bahasa asing atau bahasa serapan. Jadi kata on time emang belum sepenuhnya kepunyaan orang-orang kita. Traidisi on time masih kalah populer sama jam karet yang hampir semua orang kita punya dan pake. Termasuk saya, iya-iya.
                Untuk itulah saya pengen berubah, sukur-sukur merubah. Saya sedikit banyak belajar dari pengalaman rapat-rapat di satu even yang bisa dikatakan hampir selalu ngaret. Bahkan berjam-jam. Dan di hari H pelaksanaan saya kejatah jadi tukang time keeper. Orang yang memastikan acara bakal berjalan sesuai run-down yang udah dibikin. Memastikan tiap sesi acara berjalan tepat waktu.
                Dari pengalaman tadi saya tersentil. Jadi time keeper buat acara aja bisa kenapa ga jadi time keeper pula untuk diri sendiri? Pertanyaan yang mungkin perlu dicerna tanpa perlu dijawab.
                Saya megang sebuah divisi di salah satu organisasi. Katakanlah sebagai koordinator di katakanlah divisi KPMM. Kami punya program kerja. Dan tentunya kami butuh meluangkan waktu setidaknya untuk duduk bersama menyusun rencana agar program terlaksana (Cieh, akhirannya “a” semua). Orang-orang menyebutnya rapat. Ok rapat. Dan untuk rapat sendiri biasanya orang-orang lebih sepakat untuk menjadikan jam karet sebagai standar waktu bersama. Jadilah di kebanyakan rapat selalu dimulai mundur beberapa satuan waktu dari yang diagendakan. Bisa semenit, 15 menit, sejam, 2 jam. Bisa.
                Beruntunglah anggota saya tidak terlalu banyak. Tiap rapat tidak lebih dari 2  orang (sudah termasuk saya ya) yang datang. Dan keduanya memang sebagai koordinator. Jadi kebiasaan baru ini seharusnya tidak terlalu sulit diterapkan dan dibiasakan. Toh satu teladan lebih bermakna dari seribu kata (kata siapa saya lupa). Apalagi dimulai dari koordinatornya. Dengan semangat 45 dan optimisme yang meletup saya tuangkan maksud dan gagasan saya.    
                “Kenapa rapat selalu molor? Kalo emang bisanya datang jam 9 kenapa harus bikin janji jam 8? Kenapa saat dapat jarkom rapat 8 di masing-masing kepala tiap orang merencanakan datang jam 9? Ini berarti seolah ada persetujuan yang tidak tertulis bahwa tiap rapat pasti bakal dimulai mundur setidaknya satu jam. Dan dengan datang tepat waktu atau bahkan sebelum jam 8 berarti konyol karena sudah pasti kepagian dan belum ada yang datang”. Seolah berorasi di depan ribuan anggota, padahal yang datang cuma satu.
                “Kenapa ga jujur aja dari awal, kalo emang bisanya jam 9 ya kita terbuka ngomong jam 9. Kita agendakan besok tanggal sekian rapat jam 9, tapi ON TIME. Kenapa harus pura-pura bisa datang rapat dimulai jam 8 padahal dalam kepala masing-masing sudah bikin rencana mau datang jam 9”. Tambah menggebu-gebu.
                “Kita ga usah lah merubah Indonesia, ga usahlah merubah organisasi kita, kita mulai rubah dari tempat terkecil, hal terkecil: Divisi kita. Kita biasakan anggota kita kalo rapat on time. Saat itu sudah menjadi sebuah kebiasaan secara otomatis orang-orang yang bersinggungan dengan kita akan terkena efeknya. Saat kita rapat bersama dengan divisi lain misalnya, saat kita sudah terbiasa dan mereka belum, siapa yang malu? Siapa yang memberikan teladan? Siapa yang pada akhirnya mencoba untuk ikut berubah?”
                Jadilah kebiasaan menghargai waktu tertanam. Dan hal tersebut selalu diawali dengan sebuah aprovement di awal dalam membuat janji. Menentukan jam berapa kira-kira untuk bisa hadir tepat waktu. Awal yang manis. Manis. Sungguh.
                Sayapun mengira akan terus berjalan demikian. Sampai pagi tadi saya sendiri yang menodainya. Sebuah pesan singkat saya terima yang intinya besok rapat seperti biasa pukul 8 on time.
                Dengan percaya dirinya saya membalas:
“ON TIME. Terutama untuk koordinator dan tukang jarkomnya. Yuk jadi pioner. Mulai dari diri sendiri, mulai dari KPMM ^^”.
                Dan siapa sangka kebiasaan baik yang dengan perlahan mulai terbangun, saya sendiri yang justru menggoyahkannya. Saya pulang terlalu larut kalo tidak boleh dibilang dini hari usai menghadiri kegiatan di fakultas. Dan mungkin saya juga teledor lupa menyetel alarm di handphone karena sudah tidak sabar membuat garis singgung antara punggung dan kasur. Tertidur. Dan duhaaiii,, janganlah ditanyakan apa itu arti on time kepada orang yang pulas. Duhaaii,,, jangan tanyakan tentang menghargai waktu. Jangan pula tanyakan apa kata “maaf” masih mampu membuat lisan dan tindakan ini nampak selaras
                Duhaiii Tuhanku. Sesungguhnya hambamu inilah yang sombong. Lupa bahwa manusia hanyalah pembuat rencana.

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,  kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini."(Qs. Al Kahfi/18  ayat 23 dan 24).