Suatu waktu kesendirian itu bisa jadi hal yang sangat memilukan, menyedihkan, tapi di lain waktu malah justru membuat kita nyaman. Kondisional. Mungkin ada kalanya di waktu-waktu atau situasi tertentu kita memang ingin untuk sendiri dan tidak boleh diganggu. Atau bahkan ada mungkin beberapa tipe orang tertentu yang memang susah untuk bisa bergabung dalam suatu kelompok (baca : socializing). Jadi kata dan kondisi sendiri lebih membuatnya merasa nyaman. Tapi manusia memang sudah ditakdirkan untuk menjadi mahluk sosial sekaligus mahluk individu. Biar ga ribet mungkin maksudnya “Jadilah induvidu yang berjiwa sosial” hehehe. Intinya kalo hari minggu pak RT udah koar-koar suruh kerja bakti berarti bakal ada jajan pasar pelepas dahaga penunda lapar. Gkgkg..(ketawa model baru)
Manusia sehebat apapun, sekuat, semandiri, dan setegar apapun tak akan mampu mengingkari kebutuhannya akan kehadiran orang lain. Jangan buru-buru di artikan ke cinta-cinta an dulu. Bukan itu yang kali ini pengin saya angkat, ‘Kehadiran orang lain’ bisa dimaknai sangat luas. Yang jelas saya ga mungkin nyukur rambut (kepala) saya sendiri sebulan sekali, mihara sapi terus meres susunya sehari dua kali, nanem pohon pisang trus ngambil pelepahnya buat dijemur sampai kering biar gampang buat ditenun jadi jelana jeans, baju koko, sama batik parang rusak. Hehehe. Repot ya. Untuk itulah kita selalu membutuhkan kehadiran orang lain di sekitar kita.
“Mbak, nasi satu, sayur asem, telor ceplok, gorengan 2”
“Enem ribu mas”. Jawab mbak-mbak wartegnya.
Tuh kan bahkan makan siang aja manja banget minta dimasakin sama mbak-mbak yang bahkan belum tentu kita kenal sebelumnya. Maklum anak kost.
Begitu banyak kebutuhan yang tidak mampu untuk kita cukupi sendiri, dan ujung-ujungnya bantuan dari orang lainlah yang kita andalkan. Begitupun sebaliknya apapun peran yang kita mainkan. Boss butuh bawahan, bawahan butuh Si Boss. Penulis butuh pembaca. Musisi butuh diapresiasi. Komplit.
Kata mas-mas yang jualan ayam bakar deket pasar sawo, “ Ga ada asap kalo ga ada api”. Saya bisa ngomong demikian gara-gara baru ditinggal serombongan keluarga saya. Yap. Keluarga. Disini saya dapat keluarga baru. Mungkin atap yang pertama kali mengikat kami menjadi satu ikatan. Kami tinggal dalam satu rumah besar dengan belasan kamar didalamnya. Perbedaan aktivitas juga yang akhirnya memisahkan kami (saya tepatnya). Kost an yang biasanya riuh ramai dengan gelak tawa atau sekedar ejek mengejek sampai bertukar joke konyol copaste dari searching di kaskus, untuk sebelas hari kedepan nampaknya akan menjadi sedikit hening dan lengang.
Beberapa teman ada yang sudah mudik menikmati liburan usai UAS yang beberapa diantara mereka bilang bikin rambut rontok. Beberapa lagi menikmati liburan dengan tema Praktek Kerja Lapangan di luar kota. Akhirnya hanya tinggal beberapa gelintir saja yang masih tertinggal termasuk saya.
Dari sini saya belajar, memang tidak ada yang kekal (Kecuali ALLAH S.W.T). Gelak tawa yang tidak lagi terdengar, kamar yang biasanya dikunjungi banyak teman untuk sekedar menghabiskan waktu dengan geje, bangku buatan Pak Iwan yang biasa mengumpulkan kami sore hari atau pagi hari saat hari libur kini lebih sring kosong. Cuma saya yang mendudukinya di pagi hari. Menghabiskan sarapan nasi uduk plus telor dadar, sambil mengamati orang-orang yang hilir mudik di depan kost-an dengan urgensinya masing-masing.
Makin menyadarkan seberapa senangpun saya dengan keramaian, gelak tawa, dan kehangatan yang tercipta saat berkumpul bersama, suatu saat kita pasti akan dihadapkan pada kesendirian. Situasi di mana kita benar-benar sendiri. Tak ada teman di kanan-kiri. Tak ada seorang pun untuk di ajak bicara. Saya meyakininya. Seyakin-yakinnya. Kita akan terpisah memasuki sekat kita masing-masing. Sekat yang membentuk ruang jauh-jauh lebih sempit dari kamar kost saya yang tergolong 3 terkecil diantara kamar-kamar lainnya. Sekat yang hanya mampu menampung tubuh kita dalam posisi tidur. Sekat dengan ukuran 1x2. Yap.. Kematian itu pasti. Kesendirian itu pasti..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar