Jumat, 05 Juli 2013

Gagal nangkep maling




Tadinya saya mau kasih judul “Psikologi terbalik dan ronda malam dadakan” atau “kisah 3 pemuda tampan melawan kejahatan”,  tapi berakhir dengan judul sepolos di atas, “Gagal nangkep maling”. Karena kenyataannya kami emang gagal. Ini saya nulis antara pengen ketawa, gemes, pengen mukul tuh maling (tapi udah kabur juga orangnya), tapi satu sisi juga pengen ngebegoin diri sendiri kenapa dengan mudahnya membiarkan si orang tak dikenal tadi lepas dari dekapan (ini hiperbolis ya, yakali peluk-pelukan).
Kejadiannya masih anget banget. Tadi pagi jam 3 dini hari saudara-saudara. Saat saya sedang pulas-pulasnya dalam kondisi sleeping beauty sementara tetangga sebelah kamar saya lagi dengan khusyuk mendirikan sholat qiyamul lail (sebut saja Hafidz). Di tengah keheningan 1/3 malam yang terakhir di mana sebagian besar orang tengah terbuai dengan mimpi indahnya (iya-iya termasuk saya) Mas hafidz yang notabene tengah menjalankan sholat witir sebagai penutup qiyamul lail terpaksa membatalkan sholatnya. Kenapa? Karena insting bertahan hidupnya tiba-tiba aktif saat didengarnya suara langkah kaki mengendap-endap menuju lantai 2. (Kamar kami di lantai 2).
Dengan sigap dia keluar dan memergoki seorang anak (seumuran anak SMP kelas 3 kalo dia sekolah) mengenakan topi yang ternyata sudah bercokol di lantai dua depan kamar Haerul yang memang berada di dekat tangga.
“Ada orang!” Teriak Mas Hafidz. Matanya  menatap tajam ke arah anak tadi.
“Heh, Ngapain kamu naik-naik ke atas!?”. Bentaknya. Sambil menggedor pintu kamar haerul mencoba mencari bantuan.
Saya pun terbangun mendengar suara ribut tadi. Kost-an kami memang terbilang rawan kejahatan. Sudah beberapa kali terjadi tindak pencurian, dari sepeda, handphone, sampai laptop melayang. Mungkin itu kenapa saya dengan mudah terbangun walaupun baru tidur beberapa jam yang lalu. Mau tidak mau kami terlatih untuk lebih peka.
Saya segera keluar kamar. Terlihat Mas Hafidz dan Haerul tengah beradu mulut dengan anak yang memakai topi tadi. Saya mendekat. Tanpa bertanya, mencoba mencari informasi dengan mendengar pembicaraan mereka sembari menunggu kesadaran saya benar-benar kembali.
“Eh gue orang sini bang!” Teriak anak tadi.
“Gue nemenin temen gue bok*r di bawah”. Dengan nada tinggi membela diri. Tak lama temannya dari bawah muncul. Sesosok pemuda mungkin seumuran anak kelas 3 SMA, 18 atau 19 tahun. Berbadan cukup bongsor dengan rambut ikal dan kulit hitam muncul dari bawah menaiki tangga.
“Eh, bang kita orang sini! Kalo ga gini aja deh, temen gue banyak di luar nungguin. Kita selesein deh di luar!” Ancamnya membela temannya tadi.
“Gila ya! Baru pernah gue diginiin ma pendatang!” Ucap anak yang bertopi tadi jengkel sambil menuruni tangga.
Lah, saya yang baru muncul justru bingung. Ini kok jatohnya jadi saya bertiga yang salah. Negur orang yang jam 3 pagi mengendap-endap di rumah tinggal kami adalah perbuatan yang salah? Loh? Mereka melenggang keluar sementara kami bertiga saling bertatapan.
“Gimana? Ke bawah ga? Bener ga temennya banyak di bawah?”
            Akhirnya kami susul ke bawah dan benar saja sosok ke dua orang tadi telah menghilang ditelan keheningan 1/3 malam. Ah, kami bangunkan teman kost yang lain. Jadilah kami menyusuri jalan, gang-gang, menanyai bapak-bapak yang tengah main catur apakah melihat sosok 2 orang yang tengah kami kejar Setengah jam tanpa hasil kami kembali ke kost-an.
            Ah, dan tentu saja menyumpahi kebodohan kami tadi. Kenapa dengan polosnya membiarkan 2 anak tadi kabur hanya dengan gertak sambel dari mereka. Kenapa dengan mudahnya kami dibodohi hanya dengan permainan kata “orang sini” dan “pendatang”. Baru logika saya mulai jalan. Baru bisa benar-benar saya simpulkan kedua anak tadi memang bukan termasuk golongan orang-orang yang berada di jalan yang lurus.
            Bayangin jam 3 pagi, beralasan numpang bok*r di kost-an kami dan mengendap-endap ke lantai 2. Mau “orang sini” mau orang sono kek tetep aja itu kriminal.
            Tapi nasi sudah menjadi bubur berbarengan dengan kedua anak tadi yang jelas sudah kabur. Kami emang dengan mudahnya dibodohi, tapi cukup sekali. Bener nasi emang udah jadi bubur, tapi jangan salah kita lagi nyiapin bubur ayam spesial. Udah kami rapatkan tadi untuk meningkatkan keamanan dan kewaspadaan di kost-an mengingat emang udah mau masuk bulan ramadhan. Bukannya apa-apa justru beberapa pihak memanfaatkan momen ini untuk melakukan tindak kejahatan. Kost-an kami kecolongan ramadhan tahun lalu usai santap sahur. Laptop dan BB punya Rully tinggal kenangan.
            Jadi masing-masing dari kami harus mampu mempersenjatai diri, dan rencananya kami bakal pasang sistem alarm kayak alarm kebakaran gitu. Biar kalo ada apa-apa semua bisa langsung bereaksi. Kami juga sedang menyiapkan surat persetujuan dari RT setempat yang natinya kurang lebih bunyinya: Mau orang sini mau orang sono kek, kalo masuk kost-an lebih dari jam 10 bakal diinterogasi, kalo lebih dari jam 12 dengan senang hati boleh dihakimi.
            Mengingat kost an kami yang emang selama ini terlalu open sama orang luar ini saatnya kita bikin batas. Rule baru. Dan tentu dengan persetujuan pejabat setempat sebagai penanggung jawab. Intinya kejahatan bisa terjadi bukan hanya dari niat pelakunya, tapi juga karena adanya kesempatan. Jadi waspadalah-waspadalah teman (Niruin kata bang napi).