Sabtu, 01 Oktober 2011

On fire!!

7 sept 11

Saya jadi tambah percaya kalo jodoh itu ga akan kemana. Yap. Saya baru ngalamin sendiri. Jaket. Item. Saya sempet beli di salah satu outlet di karawang. Saya suka soalnya selain bahannya parasut bisa dipake buat naik motor juga bisa dipake buat main. Item agak abu2. Ga mencolok, motif nya juga ga rame cocok sama saya yang memang tersohor calm and cool. Hehe..huek. Jadilah saya beli jaket tersebut diantara banyak pilihan jaket2 lainnya yang digantung di outlet tersebut. Cash.
Sekian lama si jaket item menemani saya. Saat dingin dia mampu memberikan kehangatannya buat saya, kadang saat cuaca panas2 juga nekat saya pake. Saat pergi sendiri, saat bareng temen, waktu berangkat kerja, saat pulang main bola. (Jangan - jangan emang ga punya jaket lain). Sampai suatu ketika saya terperanjat. Hampir saja saya berteriak histeris. Hijaunya rumput sintetis lapangan hoki lambat laun menenangkan saya.
''Hah, mana jaketku?''. Akhirnya terucap juga beberapa patah kata dari bibir saya yang tak dapat lagi saya bendung. Dan spontan langsung mendapat respon dari pedagang asongan terdekat. ''Wah, jaket koq mpe lupa''.
Pupil saya mengecil, kelopak matapun kian meruncing. Menyisir tiap sudut yang mungkin disitu tergeletak si item jaket saya. Nihil. Saya coba cari di mushola, kamar mandi, toilet, sudut2 lapangan, sampai di bawah bangku, semuanya nihil. Hampir- hampir saya mengikuti nasihat dari lagu "Serenade" untuk mencarinya di "lorong-lorong jaalaaan.... " atau "di.. kolong-kolong jembaatan". Pada akhirnya saya hanya bisa duduk termenung. Mencoba mengingat-ingat kronologis kejadian. Saya coba ingat-ingat kpan terakhir kali saya menghabiskan waktu dg jaket saya tersebut. Kapan kami melawatkan waktu-waktu indah bersama. Dan, ah! Ya, mungkin saja tertinggal disana. Ya, mungkin memang benar adanya di sana. Di dalam stadion. Sempat saya masuk ke dalam stadion dan mengambil beberapa foto disana. Dan tentu saja dg melepas jaket. Ah, ya mungkin saja memang tertinggal disana.
Usai solat maghrib saya putuskan untuk mengambil jalan yang mengitari stadium sebelum pulang. Gelap sebenarnya, dan tentu saja sangat sepi. Tak perlu saya bayangkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi bila ada seseorang yang begitu berani berjalan seorang diri dalam kegelapan. Huh.. mengingatkan saya pada kisah Samidi. Tapi mungkin ini akan menjadi wujud ikhtiar saya yang terakhir sebelum saya benar-benar bertawakal. Saya mulai mengitari dari ujung pintu ke pintu lainnya. Dari pintu V sampai pintu X. Tidak ada satupun yang terlihat terbuka atau bahkan sengaja dibiarkan terbuka menunggu kedatangan saya. Tidak satupun. Hmhh...Okelah. Mungkin memang ini batas ikhtiar saya. Cukuplah saya punya pengalaman memanjat tembok stadion jati diri semarang dan mendapat wejangan bernada keras dari security setempat. Tapi untuk sekelas GBK? Ah,,, tentu tidak. Terima kasih. Lambat laun saya memang harus belajar tentang kehidupan. Tentang bermasyarakat. Tentang kehilangan sesuatu yang penting dalam hidup. Tentang kehilangan sesuatu yang berharga. Dan mungkin kehilangan jaket hitam saya adalah salah satunya. Ok lah. Belajar untuk ikhlas. Legawa (baca: legowo). 
Saya pun pulang dengan hanya mengenakan kaos dan celana panjang. Mungkin kali ini saya memang ceroboh. Mungkin juga saya kurang berhati-hati menjaga barang berharga yang saya punya. Tapi sempat terbelsit dipikiran saya,
''Ah kalo memang masih rejeki ga akan kemana''. Walaupun kalo dipikir-pikir pastilah mustahil. Logika ga akan nyampe. Barang ilang di kota metropolitan kok berharap bisa balik lagi. Haha. Wong yang disimpan aja bisa ilang dicopet, dirampas, dirampok. Yang berharga bisa ilang, sirna, musnah. (Dipas-pasin). Tapi biarlah saya simpan keyakinan tersebut. Biarlah, kalo jodoh ga akan kemana.
Dan,...Ow... ow..semuanya terbukti. 20 juli saya kehilangan jaket tersebut. 7 September benar-benar tak saya sangka-sangka saya mendapatkannya kembali.
Waktu Usai latihan, Pelatih saya, Pak Jul menanyakan tentang seonggok jaket. Jaket hitam. Menanyakan kepada saya apa saja ciri-cirinya. ''Parasut pak, trus ada tulisan On Fire pak di belakang''.
Pak coach manggut-manggut sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Dan... Ah! Iya.
''Betul pak, punya saya''. Saya perlihatkan letak tulisan on fire sebagai bukti saya memang pemiliknya. Ah,, benar2 tidak saya kira. Sesuatu yang tadinya saya kira mustahil. Kalo pun ga ketemu kembali saya juga udah lila. Ga taunya...masih dipertemukan kembali.
Yap.. Mungkin kalo emang jodoh ga akan kemana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar